Skip to main content

Benarkah Kepemilikan properti untuk orang asing menguntungkan Indonesia?

Pemerintah Indonesia saat ini sedang akan membuat aturan untuk mengizinkan warga negara asing memiliki properti, apakah hal ini menguntungkan atau merugikan bagi bangsa kita?

Kepemilikan warga negara asing (WNA) atas properti di Indonesia masih menjadi polemik. Salah satu alasan WNA begitu diperjuangkan dalam hal ini karena Indonesia terus merugi akibat warga yang lebih memilih membeli properti di luar negeri.


Sebaliknya, WNA tidak diizinkan untuk membeli properti di dalam negeri. Namun, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo tidak sependapat dengan hal itu.
Saat WNA diizinkan memiliki properti di Singapura, misalnya, harga properti menjadi tinggi. Karena warga mengeluhkan hal ini, Pemerintah Singapura pun memberlakukan kebijakan untuk mengerem kepemilikan properti oleh WNA.

"Kita (warga negara Indonesia atau WNI) memang bisa beli properti di luar. Di Singapura misalnya. Syaratnya, harus (dalam kondisi bahwa tinggal) 20 persen warganya yang belum punya rumah," ujar Eddy.
Dengan kondisi bahwa 80 persen penduduk Singapura sudah memiliki rumah, lanjut Eddy, maka pemenuhan kebutuhan papan bagi 20 persen lainnya akan lebih mudah. Selain itu, bagi WNA yang belum satu tahun kepemilikannya tetapi ingin menjual rumah tersebut, Pemerintah Singapura memberlakukan pajak sebesar 16 persen.
Apabila ingin menjual properti setelah lebih dari setahun, maka beban pajaknya adalah 8 persen.
Sementara itu, menurut wacana yang berkembang di Indonesia, kepemilikan oleh WNA akan dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dengan ketetapan minimal hunian senilai Rp 5 miliar. Adapun pajak ini juga berlaku untuk barang mewah lainnya yang dimiliki WNI.
"Orang Singapura yang beli properti, (dibanding) orang asing yang beli, bedanya 3-18 persen. Masa kita sama?" sebut Eddy.

Bukan hanya Singapura, imbuh Eddy, Australia pun tengah berdebat soal gelembung properti ( bubble property ). Ada yang mengatakan bahwa Australia sudah mengalami gelembung ataupun menuju gelembung, ada pula yang mengatakan tinggal menunggu gelembung pecah.
Persepsi mana pun yang benar, kata Eddy, intinya tetap saja Australia tengah memperlambat laju penjualan properti untuk orang asing.

Di Jepang, kondisinya tidak jauh berbeda. Tidak seperti julukannya, Negeri Matahari Terbit, mereka justru tidak mengalami sunrise untuk properti. Sebaliknya, pada faktanya, malah banyak rumah kosong di Jepang. Penyebabnya, kebanyakan rumah dibeli untuk investasi, bukan untuk ditinggali.
Soal budaya, Jepang memang tidak memaksakan penduduknya untuk memiliki rumah. Dari perhitungan ekonomi, uang atau modal jauh lebih besar keuntungannya jika digunakan untuk usaha. Pasalnya, harga rumah sudah mahal sekali.

Sudah banyak contoh negara yang terpuruk di sektor properti akibat membuka keran terlalu lebar bagi pihak asing. Menurut Eddy, Dubai juga sudah mulai mengarah ke gelembung properti karena hal tersebut.

Dari pertimbangan-pertimbangan itulah, Eddy mempertanyakan perkara Indonesia ketika harus meniru negara lain soal membuka keran kepemilikan properti bagi orang asing. "Kata siapa negara asing sukses? Bohong itu," kata Eddy.

Comments

Popular posts from this blog

Amarillo Village dari Paramount Land dengan konsep Custom homes

Paramount Land kembali menggagas proyek baru dengan konsep compact dan custom homes di Amarillo Village, Gading Serpong. Ini adalah proyek rumah dengan desain yang dapat dipilih sesuai selera dan kebutuhan pribadi konsumennya. Direktur Paramount Land, Aryo Tri Ananto, menjelaskan Amarillo Village merupakan hunian yang membebaskan konsumen untuk merancang sendiri rumah sesuai keinginan dan kebutuhannya. Pihaknya menawarkan bermacam pilihan rancangan rumah dan desainnya. "Nanti didesain dengan tata letak ruang yang efisien dan lingkungan yang sehat," ujar Aryo, Kamis (30/7/2015). Proyek hunian tersebut menawarkan tiga alternatif desain yaitu france, modern, dan classic. Tiga desain tersebut termasuk tiga paket spesifikasi finishing, yaitu bare, standard dan deluxe yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Dengan tipe terdiri dari L5 (lebar 5m) dan L4 (lebar 4m), Paramount menawarkan harga hunian tersebut mulai Rp 600 jutaan sampai Rp 700 jutaan per unit. ...

Jangan ketinggalan investasi di kavling HMG, yield 30% dlm 3-5 bulan

In Life, We prepare 3 things: 1. Birth of our children 2. Wedding celebration 3. Funeral We are always prepared for birth and wedding and most times we are not ready for departure KEMATIAN MEMBAWA KESEDIHAN.... Sudahkah anda mempersiapkan tempat peristirahatan terakhir utk orang" yg anda kasihi ??? Persiapkan selagi Anda MAMPU & BISA... !!! Menghadirkan Rumah Masa Depan =HEAVEN MEMORIAL GARDEN= di Balaraja CIKUPA - Tangerang Sebuah pemakaman berkonsep Taman pertama di Indonesia yg berlokasi didaerah Tangerang dengan fasilitas dan pelayanan terbaik. Why Heaven Tangerang? - Lokasi keluar pintu tol balaraja timur, lebih bebas macet - Konsep taman hijau & Aliran Sungai - Cukup sekali bayar untuk selamanya - Parkir luas - Dikelola management berpengalaman. Kawasan rumah masa depan terbaru & terbaik dgn HARGA PERDANA yg kami tawarkan. Tipe ukuran mulai dr 4x6  4x7,5  6x8   6x10  8x12  16x24 dan 24x48 Cara bayar : Cash keras DP dr 1...

Angka Kelahiran tinggi, Mau dimana lagi kita tinggal ?

S ebagai warga negara Indonesia, yang hidup dan  berdomisili di Jakarta. Kita harus ikut prihatin bagaimana nanti masyarakat umum mau tinggal dengan layak? Baru-baru ini warga Pinangsia melakukan demo kepada Ahok Gubernur DKI karena terkena penggusuran rumah mereka di tepi bantaran kali. Karena penduduk tersebut telah menempati lahan luas di atas tanah negara. Dengan alasan lokasi dekat dengan tempat usaha, bekerja atau jarak sekolah anak lebih dekat , warga pun melakukan protes kepada Ahok akan penggusuran ini. Kita bisa melihat ke masa lalu, latar belakang ekonomi telah membuat masyarakat berbondong-bondong menuju ke kota sebagai tempat harapan mencari nafkah yang lebih baik. Namun kedatangan mereka tidak dibarengi dengan kualitas hidup yang layak, bersih dan sehat. Bahkan di kawasan kumuh dan sempit itu, angka kelahiran semakin tinggi. Kita terkadang melihat bahwa dalam 1 rumah terdiri dari 1-3 Kepala Keluarga, udara yang lembab, bau, dan air bersih semakin langka, ...